Minggu, Februari 08, 2026

Kertas dan Makna




     Jakarta - Cuaca cukup bersahabat, langkah kaki membawa masuk ke dalam dinginnya City Hall di Pondok Indah Mall 3. Namun, suasana di dalam segera terasa hangat. Datang ke Art Jakarta Papers, sebuah edisi baru yang bukan sekadar pameran seni biasa, melainkan sebuah perayaan besar bagi media yang paling dekat dengan keseharian kita yakni Kertas.

     Begitu melewati pintu masuk, disambut oleh suasana yang berbeda dari pameran seni pada umumnya. Jika biasanya kanvas besar mendominasi ruangan, di sini segalanya terasa lebih intim dan detail. Ada 28 galeri yang berpartisipasi, mulai dari galeri lokal kebanggaan seperti ROH, CAN’S Gallery, ArtSociates, hingga galeri mancanegara dari Seoul, Taipei, Bangkok, dan Kuala Lumpur. Kehadiran mereka seolah menegaskan bahwa kertas bukan sekadar pemanasan sebelum melukis di kanvas, melainkan bintang utama yang memiliki nilai historis dan ekonomi yang sejajar.

     Berhenti sejenak di salah satu lorong, teringat pada narasi pameran ini yang menyentil memori ingatan masa kecil. Tersenyum tipis membayangkan bagaimana kertas HVS dan koran bekas di tangan pedagang mainan dulu bisa berubah menjadi topeng macan yang direkatkan dengan lem kanji. Kenangan itu membuat sadar bahwa kertas memang sudah lama menjadi bagian dari nyawa visual di Nusantara, ia ada di lembaran wayang beber yang kusam, poster perjuangan, hingga komik dan prangko yang dulu dikumpulkan dengan telaten.

     Eksplorasi visual di sini benar-benar tanpa batas. Mata dimanjakan oleh goresan cat air yang transparan, arang yang tegas, hingga instalasi tiga dimensi yang rumit. Di salah satu sudut galeri, menemukan sebuah karya yang sangat filosofis, yakni sebuah metafora pohon. Senimannya menggambarkan perjalanan hidup manusia melalui akar sebagai prinsip dasar, batang sebagai simbol keteguhan diri, dan dahan-dahan yang mewakili perkembangan fase kehidupan. Yang menarik, ada sebuah kubus di tengahnya, sebuah pengingat visual akan pentingnya manajemen kehidupan dan finansial di tengah pertumbuhan sebagai manusia.

     Tak jauh dari sana, bertemu dengan figur boneka yang unik. Tampak malas, nyaris pasif, seolah sedang melamun dan menyender. Namun, ada aura misterius yang dirasakan, seolah jika berkedip sedikit lebih lama, boneka itu akan menarik napas dan hidup. Imajinasi ini berlanjut saat melihat perwujudan bidak-bidak catur, sang raja, ratu, ksatria, hingga kuda yang dieksekusi dengan teknik yang luar biasa halus di atas kertas.

     Semakin jauh melangkah, semakin menyadari betapa luasnya spektrum kertas itu sendiri. Dari praktik seni berbasis arsip dan riset hingga patung-patung kertas yang kokoh, pameran ini berhasil memposisikan kembali material ini sebagai media yang sesuai secara konseptual.

     Keluar dari City Hall, membawa pulang sudut pandang baru. Kertas tidak lagi terasa tipis atau rapuh di mata. Ia adalah saksi bisu yang jujur, yang merekam setiap tekanan pensil dan resapan tinta tanpa pura-pura. Hari ini belajar bahwa sesuatu yang sederhana, jika diberi sentuhan rasa, teknik yang matang, dan riset yang mendalam, bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga dan memiliki value. -SA