(Dok.Pri)
Jakarta - Dari balik jendela gedung tinggi terlihat pemandangan kota. Rumah, ruko, hotel dan apartemen berdiri berdampingan dengan beton yang padat, di mana kehidupan berdesakan dalam keterbatasan ruang. Di bawah sana, di area taman kecil yang tersisa, suara tawa anak-anak bersahutan dengan lalu lalang seorang pesepeda yang mengayuh perlahan. Di jalan raya, deretan angkot, taksi dan kendaraan lain merayap pelan, jajanan pasar tumpah dan sesegalanya terasa semrawut, penuh dengan noise.
Manusia bukan produk statis, bukan hanya tentang siapa dirinya hari ini, tetapi tentang proses panjang yang membentuknya. Tidak pernah tahu akhir perjalanan seseorang, karena perkembangan mental dan takdir selalu bergerak linier namun tak terduga.
Ponsel di meja bergetar, menampilkan notifikasi berita financial, ekonomi, kabar24, market dan perkembangan AI. Dalam genggaman sebuah keputusan eksekusi transaksi perbankan berada tepat di ujung jari. Namun, sistem memilih dan memilah untuk butuh kehati-hatian. Ada momen di mana tindakan terbaik adalah tidak mengambil tindakan sama sekali. Sebuah keputusan sebelum menekan tombol menjadi batas tipis antara terkontrol dan grusa-grusu.
"Hmm kadang portofolio perjalanan juga butuh rebalancing, tidak semua variabel harus dieksekusi hari ini."
Ada opportunity cost dan valuasi, sering kali mengalami sunk cost fallacy, terus berinvestasi pada interaksi hubungan yang tidak lagi memberikan yield. Jangan coba mengejar lagi, penting untuk menghemat energi untuk sesuatu yang tidak bisa menghargai. Less is more, memangkas hal-hal yang gak guna bukan berarti mengurangi nilai, melainkan memperjelas Intisari, ujar Orang Tua.
Dikelilingi hal berbagai macam karakter, seperti susunan kartu Jack, King, Queen, Ace. Ada yang datang membawa otoritas, ada yang membawa keberuntungan, namun tidak semuanya relevan untuk disimpan dalam genggaman. Lagipula, realitas ini gak sespesial itu. Tidak perlu selalu merasa menjadi pusat gravitasi. Ada banyak hal yang berjalan di luar kendali, layaknya pergerakan planet dalam tata surya yang patuh pada orbitnya masing-masing.
Kata sederhana sebenarnya sudah cukup untuk menjaga interaksi tetap rendah, halnya Maaf, Tolong dan Terima kasih. Selebihnya? gak semua harus dijelaskan. Cukup ringkas, bukan yang berbelit-belit.
Rehat sejenak, beri (r)uang, dan makasih pada diri, juga hari ini. -SA
