Rabu, Maret 18, 2026

Narasi, Dunia, Sinting

 



Jakarta - Satu lagi angka tertulis di naskah hidup, yang seharusnya dirayakan dengan sorak-sorai, namun entah mengapa, keheningan justru terasa jauh lebih mewah. 

Ada keganjilan yang indah pada langit sore ini, warna jingga yang memudar tertutup abu-abu yang tampak lelah, seolah semesta pun sedang menghela napas panjang setelah seharian dipaksa benderang, namun tak lama tiba-tiba suara menggelegar dan akhirnya hujan turun.

Duduk di ambang senja, tepat saat dunia mulai melambat menjelang adzan. Di sekeliling, suasana penghujung Ramadhan dan menjelang lebaran mulai terasa. Orang-orang berlomba untuk pulang, bersiap memamerkan versi terbaik dari diri mereka, atau setidaknya, berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan keluarga dan kerabat.

Dulu, mungkin akan ikut dalam perlombaan itu, merasa cemas jika tidak memiliki pencapaian mentereng untuk dipamerkan, merasa sesak jika langkah tak secepat standar yang ditekan oleh media sosial.

Namun, sebuah kesadaran menghantam dengan lembut dan telak. Ternyata, tidak ada satu pun orang yang benar-benar lepas dari beban.

Di balik senyum yang dipaksakan dan kesibukan yang dipertontonkan di layar ponsel, setiap orang sedang menahan sesuatu. Ada beban yang tidak terlihat di pundak mereka, mungkin kesedihan yang tak sanggup diucapkan, harapan yang sudah lama terkubur di bawah tumpukan tuntutan kerja, atau sekadar lelah yang menahun. 

Industri menuntut untuk menjadi mesin yang tak boleh berhenti, media sosial memaksa untuk merasa kurang, dan masa depan?... tetaplah kabut tebal yang menyerupai monster yang menakutkan, jika terus menatapnya dengan rasa takut.

Tapi, memilih untuk melepaskan beban untuk menjadi sempurna. Tidak lagi ingin berlari. Memilih untuk berjalan pelan, dengan ritme yang ditentukan sendiri.

Menyadari bahwa hati memang sedang lelah. Untuk berharap terlalu tinggi pada hal-hal di luar kendali, untuk memenuhi ekspektasi yang bukan milik sendiri. Sekarang, bahwa keheningan jauh lebih jujur dibandingkan percakapan penuh basa-basi yang melelahkan jiwa. Mulai belajar untuk benar-benar menghargai kehadiran siapa pun yang masih mau duduk dan mendekat, yang mau berbagi sunyi tanpa perlu banyak bertanya, meski tahu mereka pun mungkin sedang berjuang dengan badai masing-masing.

Cara pandang terhadap dunia telah bergeser secara permanen. Tidak lagi mencari validasi dari luar, tidak lagi haus akan pengakuan atas pencapaian. Di tengah ketidakpastian yang mengepung, hanya ingin mencari kedamaian. Belajar untuk merawat diri di tengah reruntuhan ekspektasi, tetap melangkah meski terkadang kaki terasa seberat timah.

Saat adzan akhirnya berkumandang, membelah kesunyian sore, menarik napas panjang. Tidak ada kado mewah yang terbungkus pita, tidak ada pesta yang meriah. Hanya diri dan keberanian untuk berdamai dengan kenyataan. Tidak lagi mengejar bayang-bayang yang semu. Terus berjalan, meski pelan, membawa hati pulang ke tempat yang paling tenang, ke dalam diri sendiri yang apa adanya.

Thanks! Semesta, untuk satu tahun lagi. Bukan untuk kemenangan yang megah, tapi untuk ketabahan yang sunyi. -SA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar