Jumat, Juni 05, 2026

Sisi Lain Angka

(dok pri)


Asap tipis mengepul dari permukaan cangkir keramik di atas meja. Membiarkan sejenak, menatap cairan hitam pekat di dalamnya yang bergerak tenang tanpa riak. Melirik jam tangan. Pukul lima sore lewat sedikit. 

Beberapa waktu lalu, bertemu dengan teman lama. Lucu rasanya mengingat bagaimana waktu mengubah manusia. Bertahun-tahun lalu, bisa menghabiskan berjam-jam membicarakan mimpi, ambisi, atau rencana menaklukkan dunia. Namun, meja pertemuan itu berubah fungsi. Tidak ada lagi obrolan menggebu-gebu. Kursi-kursi itu kini dipenuhi oleh taktik bertahan hidup, keluhan tentang tagihan, dan kompromi dengan realitas. Sisanya hanyalah kilas balik yang beralih menjadi sesi mengenang momen lama, seolah-olah masa lalu adalah satu-satunya tempat aman yang tersisa.

Berpisah dan kembali ke ritme hidup masing-masing. Perlahan-lahan mulai terasa seperti perpindahan monoton dari satu kekhawatiran ke kekhawatiran berikutnya. Menghela napas, mengeluarkan ponsel dari saku celana. Layar menyala, menampilkan grafik pasar modal dan berita ekonomi hari ini. Angka-angka berkedip. Dolar AS, Rp18.015.

Sebagian orang, itu mungkin hanya deretan angka digital di layar bursa saham. Tapi angka itu punya kaki dan tangan yang sanggup mencekik leher masyarakat kecil. Dolar bukan cuma urusan orang-orang kaya di gedung pencakar langit Jakarta. Angka itu melompat keluar dari monitor, menyusup ke pasar-pasar tradisional, menentukan harga beras, dan mendikte apakah bulan depan para buruh masih punya pekerjaan atau sebaliknya.

Teringat obrolan dengan seorang pedagang warung makan saat makan siang. Spanduk kuning warung itu tampak kusam, sama kusamnya dengan wajah sang pemilik yang bercerita bahwa daya beli masyarakat sedang menurun.

"Sekarang orang makan nyari yang kisaran sepuluh ribuan sampai dua puluh ribuan saja," kata pedagang itu sambil menata lauk. "Rendang, ikan, udang... jarang ada yang nyentuh. Pada milih tempe, tahu, telur balado, sama sayurnya dibanyakin. Yang penting kenyang." ucapnya.

Sebuah pergeseran pola makan yang lahir dari keterpaksaan. Berhemat bukan lagi bagian dari seni hidup minimalis, melainkan sebuah aturan pertahanan diri yang wajib agar dapur tetap mengepul.

Menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Pikiran melayang pada daftar panjang kenaikan harga. Semuanya bergerak naik seolah remnya sudah blong. Di toko bangunan, harga besi dan paralon merangkak naik. Urusan AJB tanah pun, calo-calo masih berkeliaran meminta jatah. Dunia per-gorengan pun semakin renyah merangkak.

Perlindungan diri. Tarif premi asuransi kesehatan melonjak, tercekik inflasi medis global. Di supermarket, harga kebutuhan harian, mulai dari sabun, susu, mie instan, hingga minuman botol ikut mahal. Semua saling mengunci, konflik geopolitik di Timur Tengah yang tak kunjung usai, mahalnya harga minyak sawit mentah, biaya impor gandum, hingga pelemahan Rupiah yang membuat ongkos produksi membengkak.

Dunia investasi yang biasanya menjadi tempat memutar uang, situasinya sama keruhnya. Dividen saham mengecil. Secara teori, beli saham saat turun di area support itu peluang emas. Kondisi sekarang, seperti berdiri di tepi jurang. Risikonya terlalu besar jika harganya justru breakdown tembus ke bawah.

Ponsel bergetar di atas meja. Sebuah notif masuk. Menatap layar, jari menggantung di atas papan ketik. Diam sejenak, benteng terakhir untuk menjaga waras. Cara menahan diri, mengunci ego, agar tidak ada kata-kata tajam yang lolos dari mulut. Meletakkan kembali ponsel dengan posisi layar menghadap ke bawah.

Dihirup aroma kopi hitam yang mulai mendingin. Pahitnya menyentuh lidah, membilas sisa resah yang sempat mampir. Memilih mengambil jeda. Menghirup napas dalam-dalam, menata kembali kepingan-kepingan kekhawatiran di kepala, dan  setidaknya, dimulai dari menghabiskan isi cangkirnya. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar