Jakarta - Bab empat, datang dengan membawa beban yang tak kasat mata. Di Bab lalu, langit kamar sering kali menjadi satu-satunya saksi atas malam-malam yang terjaga. Pikiran berkelindan, merayap di antara celah-celah kekhawatiran yang sebenarnya sepele, namun entah mengapa sanggup menyedot habis kapasitas mental hingga ke dasarnya. Terlalu sering memaklumi keadaan, hingga lupa bahwa jiwa pun memiliki batas yang menuntut untuk dihormati. Di tengah hiruk-pikuk itu, merindukan hening sebagai sebuah kemewahan, sebuah ruang di mana tak perlu berpura-pura mengonsumsi nutrisi palsu yang ditawarkan dunia hanya untuk terlihat baik-baik saja.
Penghujung Bab, jam dinding menunjuk angka dua belas malam ketika pekerjaan akhirnya melepaskan cengkeramannya. Tanpa sempat menarik napas panjang, membelah Mampang menuju basecamp, sekadar menaruh sisa lelah sebelum fajar membawa ke Stasiun Pasar Senen. Kereta api menuju Lempuyangan menjadi mesin waktu yang membawa melarikan diri dari Jakarta yang menuntut.
Yogyakarta menyambut dengan sore yang teduh. Di sana, kegelisahan perlahan meluruh di antara meja kayu Sambal SS, terbakar oleh rasa pedas yang jujur. Halaman berikutnya, tentang merayakan hal-hal sederhana yang selama ini terabaikan. Di Pasar Ngasem, menemukan kembali ritme hidup yang hilang, semangkuk bubur jenang candil yang lembut, dan secangkir kopi manual brew yang aromanya mengembalikan pagi yang sempat hilang arah. Ada kedamaian saat berjalan di lorong Beringharjo, mengamati corak batik, atau membiarkan pikiran berkelana di Gembira Loka. Malamnya, Raminten memberi nuansa magis, yang kemudian ditutup dengan hangatnya susu murni Pak Warto. Sebuah pelukan dalam bentuk cairan yang menenangkan.
Lanjut halaman berikutnya, perjalanan menuju ketinggian. Dengan motor, membelah jalan menuju Magelang. Sukomakmur, Nepal van Java, hingga Negeri Sayur menyuguhkan pemandangan yang membuat sesak di dada perlahan menguap. Alam memiliki caranya sendiri untuk menyembuhkan, ia menunjukkan bahwa tidak semua hari harus berjalan sesuai rencana, dan tidak semua hari akan terasa enak. Namun, justru di sanalah letak seninya. Sebelum pulang, menyempatkan diri bersimpuh di hadapan kemegahan Prambanan, sebuah monumen tentang ketabahan yang melampaui waktu.
Tepat jam setengah dua belas malam, kereta kembali bergerak meninggalkan Lempuyangan. Di balik jendela yang memantulkan wajah, sedikit merenung. Ya, pengelana tidak pernah takut akan kesendirian, sunyi adalah sahabat lama yang selalu memberi ruang untuk refleksi.
Bab lima sudah berdiri di ambang pintu saat melangkah keluar dari stasiun pagi itu. Udara Jakarta yang mulai menghangat menyambut kembali ke realita, namun ada sesuatu yang tertinggal di jalur rel antara Lempuyangan dan Pasar Senen, beban-beban tak kasat mata yang sempat membuat sulit tidur di awal Bab lalu.
Belajar bahwa menjaga kapasitas mental bukan berarti menjadi lemah, melainkan menjadi bijak untuk tahu kapan harus berhenti dan kapan harus pergi. Perjalanan itu bukan sekadar liburan, melainkan sebuah validasi bahwa mampu menavigasi kesunyian tanpa rasa takut.
Saat ini, kembali ke laptop dengan sisa aroma kopi Pasar Ngasem yang masih terbayang dan keheningan Magelang yang masih membekas. Siap menghadapi Bab selanjutnya, dan tetap memiliki ruang untuk jujur pada diri sendiri. Sembari merapikan mimpi-mimpi yang sempat tertunda, dan membiarkan pintu hati sedikit terbuka, agar perjalanan-perjalanan berikutnya tak lagi sekadar tentang pulang ke rumah, tapi tentang pulang ke seseorang. -SA
