Senin, Agustus 31, 2026

Jalan, Cerita

(dok.pri)

 

Jakarta - Jalanan depan sana belum benar-benar sepi, tapi halaman bab delapan perlahan penuh. Di batas kota seperti perpustakaan besar yang terus bergerak, klakson bus TJ, KRL, MRT, LRT menembus koridor, bajaj dan ojek online berseliweran di antara deretan gedung kota, sementara di sudut jalan yang lebih lengang, Polantas, Satpol PP, Satpam tetap berdiri menjaga suasana jalan yang terus berulang.

Sejenak, pandangan tertuju pada detail-detail kecil yang kerap terlewatkan, lalat yang tenang dan diam di atas helai daun dekat area parkir, gemercik air dan tawa anak-anak berenang di halaman sebuah rumah villa, hingga bayangan orang bersepeda yang melintas dengan pelan. Di tepi danau yang tak jauh dari situ, seorang nelayan sibuk menjala ikan dengan perahu kayu, bersebelahan dengan pemancing yang sabar menunggu ombak kecil. Sisa-sisa kemeriahan Tujuh Belas Agustus masih berbekas di sudut-sudut lorong, berdampingan dengan aroma yang membumbung dari food street, keramaian festival kopi, dan denting sepeda kopi starling yang setia di trotoar.

Ironisnya struktur penindasan tidak benar-benar hilang, hanya berganti warna kulit dan bahasa, yang sebelumnya mengenakan jubah kolonial, hari ini ketidakmerdekaan sering kali lahir dari kebijakan egois para pemangku kebijakan, keserakahan mafia, dan sistem yang tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas.

Bab ini adalah tentang sibuk berpikir, bekerja, dan mengejar banyak hal. Namun, dari semua kerumitan, ada satu hal yang mulai dipahami, tidak semua jeda membutuhkan sesuatu untuk mengisinya. Istirahat bukan hanya sekadar memejamkan mata, melainkan saat di mana pikiran akhirnya berhenti berperang melawan dirinya sendiri. Kadang, hanya minta untuk menjauh dari layar, mengambil napas dalam-dalam, berjalan keluar, dan do something fun.

Halnya ritual joging di suatu pagi, yang dicari sebenarnya bukan cuma udara segar, tapi juga orang yang lalu lalang, obrolan acak, dan secangkir kopi hangat setelahnya. Sebab setiap gelas menyimpan cerita, dan setiap perjalanan punya rasanya sendiri. Ada malam di mana dentum bola bilyard saling berbenturan di dalam ruangan, sementara di sudut lain, sebuah lingkaran kecil sibuk bertahan, ada yang sibuk bercerita, ada yang sibuk menjaga suasana, hingga kopi di meja mendingin tanpa ada yang sadar.

Berbagai pertemuan dan pertukaran cerita dengan manusia lain membawa pemahaman baru. Pada suatu titik, cara pandang mulai berubah. Perasaan sering kali datang tanpa permisi, membuat sadar bahwa kepercayaan bisa menjadi permainan yang berbahaya. Di saat yang sama, ada penerimaan bahwa diri ini bisa menjadi tokoh yang baik maupun jahat di dalam cerita orang lain. Ini hanyalah rangkaian episode panjang tentang belajar meminta maaf, memaafkan, dan tumbuh dari momen-momen yang tidak selalu nyaman.

Ada hal-hal yang terlalu rumit untuk dirangkai menjadi kata-kata, dan terlalu dalam untuk dijelaskan. Namun, di tengah ketidakpastian itu, ada keyakinan halus bahwa tangan Tuhan bisa datang dari mana saja, dengan cara yang tak terbatas.

Tak perlu disebut, cukup perhatikan petunjuknya, sekantong belanjaan dalam anyaman plastik di tangan kiri, satu panggilan telepon yang baru saja ditutup di tangan kanan, dan pandangan mulai kabur yang membuat langkah sempat terhenti. Biarkan otak yang melanjutkan sisa ceritanya. Lagipula, tak peduli seberapa jauh perjalanan ini, yang dibutuhkan empati nyata dan rasa didengar, bukan dengan si Meta, Gemini, Copilot, atau ChatGPT, namun satu hal pasti... merupakan ruang pulang, untuk orang yang sedang kusut. -SA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar